Notification

×

Bisnis RB di Kota Kupang Antara Positif dan Negatif

Rabu, 14 Oktober 2020 | Oktober 14, 2020 WIB Last Updated 2020-10-14T13:58:19Z

KUPANG,BUSERTIMUR - Pakaian bekas atau RB  yang dijual bebas di kota kupang, menjadi karisma dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat di kota Kupang, karena selain murah harganya, kualitas  RB  tidak kalah bagus dengan pakaian  yang dijual di toko, super market bahkan di mall -mall di Kota Kupang.

Seolah menutup mata dengan aturan Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 tentang larangan Impor pakaian Bekas serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, para pedagang RB di kota kupang secara bebas dan terang-terang menjual RB kepada masyarakat.

Padahal, para pedagang RB (Pelaku Usaha)  bisa terdampak  pasal 35 ayat (1) huruf d, Pasal 36 , dan Pasal 47 ayat(1) yang menyebutkan pemerintah menetapkan larangan perdagangan pakaian bekas impor untuk kepentingan nasional dengan alasan melindungi kesehatan dan keselamatan manusia, hewan, ikan, tumbuhan, dan lingkungan hidup.

Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Josef Mario Monteiro, SH.,M.H  ketika dihubungi  wartawan Rabu (14/10/20) menjelaskan bahwa maraknya bisnis pakaian bekas/rombengan (RB) di NTT khususnya kota kupang berdampak positif  dan negatif.

Dikatakan dampak positifnya sebagai sumber pendapatan pedagang kecil serta  Bagi masyarakat yang punya penghasilan rendah kebanyakan membeli pakaian bekas. 

"Bagi masyarakat yang punya penghasilan rendah kebanyakan menyukai membeli pakaian bekas Padahal, para pedagang RB (Pelaku Usaha)   secara negatif, bisa terdampak  pasal 35 ayat (1) huruf d, Pasal 36 , dan Pasal 47 ayat(1) yang menyebutkan pemerintah menetapkan larangan perdagangan pakaian bekas impor untuk kepentingan nasional dengan alasan melindungi kesehatan dan keselamatan manusia, hewan, ikan, tumbuhan, dan lingkungan hidup,"tuturnya.

Dikatakannya  pelanggaran atas regulasi bisnis impor pakaian bekas dan sanksi yang diatur dalam peraturan kementrian perdagangan antara lain dalam Pasal 111 UU No. 7/2014: pidana maxsimal 5 tahun penjara  atau   denda maxsimal 5 miliar rupiah

Josef Mario Monteiro berharap bea cukai  melakukan pengawasan di pelabuhan atau bandara impor masuknya pakaian bekas. 

Josef Mario Monteiro meminta penegakan hukum memberikan  sanksi yang tegas.

Josef menambahkan Pemerintah kota atau pemerintah daerah kabupaten Kupang melalui dinas perdagangan bekerjasama untuk pemberian pelatihan dan fasilitasi UMKM khususya pembuatan fashion lokal untuk dipasarkan di masyarakat mengajak/menghimbau masyarakat untuk membeli pakaian hasil UMKM nasional dan lokal.(*tim)