ALOR,BUSERTIMUR - Anggota DPRD Kabupaten Alor, Mathen Blegur dinilai Bohong soal bantuan Sumur bor bagi warga Mola yang dibangun di halaman rumahnya berdasarkan kesepakatan warga.
Hal ini disampaikan Ketua RT 11, Kelurahan Welai Timur, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Propinsi NTT, Imanuel Atapelang
"Pernyataan bahwa sumur dibangun di halaman rumah anggota DPRD berdasarkan kesepakatan warga dan saya sebagai ketua RT itu pernyataan tidak benar. Itu bohong," Tutur Imanuel saat dikonfirmasi, Jumat 20 November 2020 via telpon pukul 17. 49 wita
Menurutnya, selama kegiatan berjalan dirinya tidak mengetahui bahwa sumur yang dibangun tersebut merupakan bantuan pemerintah kepada warga.
"Saya tidak tau kalau sumur bor yang dibangun tersebut merupakan bantuan Pokir. Saya pikir sumur bor itu milik pribadi anggota dewan yang bersangkutan karena dirinya sudah membangun rumah disini," Tuturnya
Dikatakan Imanuel Atapelang, kalau sumur bor tersebut bantuan pokir tentu anggota dewan yang bersangkutan sudah menghubungi dirinya.
Ketika ditanyai terkait apakah sumur bor bantuan tersebut dibangun di halaman rumah Anggota DPRD Marthen Blegur berdasarkan kesepatakan warga dan RT setempat.
"Yang disampaikan Anggota DPRD Mathen Blegur bahwa sumur bor bantuan itu dibangun di halaman rumahnya atas kesepakatan warga tidak benar adanya, itu bohong, tidak pernah ada kesepakatan itu bahkan pertemuan untuk membahas itu juga tidak ada ," Beber Imanuel
Ditambahkannya, semenjak dibangun sumur bor bantuan itu, warga setempat belum pernah menikmati.
"Mana mau menikmati air dari sumur bor bantuan tersebut, pagar rumahnya saja dibangun tinggi dua meter," ungkapnya.
Sementara itu Anggota DPRD Kabupaten Alor Marthen Luther Blegur saat dikonfirmasi via telpon , Jumat 20 November 2020 menjelaskan awalnya masyarakat setempat datang kepada dirinya meminta bantuan agar bisa mendapatkan
sumur bor karena sebelumnya pernah mendapatkan bantuan sumur bor P2KP tapi distribusinya air tidak jalan.
"Saya membantu dengan pokir 50 juta bisa dibangun sumur bor," tutur Mathen Via telpon.
Kemudian kata Marthen, dilakukan pertemuan bersama berdasarkan kesepakatan dengan ketua RT maka akhirnya memutuskan bantuan sumur bor ditempatkan di halaman rumah dirinya, itupun atas kesepatakan bersama warga dan RT setempat.
Soal pagar rumah munurut Marthen pada tahun 2020 dirinya memasang pagar keliling karena kondisi rumah kosong tidak ada penjaga.
"Rumah saya pagar, pintu pagar tidak saya gembok bagi warga yang membutuhkan air silahkan datang ambil karen pintu pagar saya tidak gembok," jelas Marthen.
Dikatakan Marthen, karena anggaran sumur bor 50 juta dan sangat terbatas, sehingga pengembangan jaringan sumur bor tersebut terbatas. Untuk itu dirinya memikirkan anggaran untuk memasang akses perluasan jaringan sehingga bisa dinikmati warga.
Ia menambahkan, karena tanah itu merupakan aset miliknya maka dirinya mempunyai hak untuk memagar bukan sumur yang dipagar.
"Terserah dia mau omang apa, bagaimana rumah saya kasih tinggal kosong tanpa pagar, kecuali ada yang jaga," ungkap Marthen.(*tim)
