Kalabahi, BuserTimur = Bantuan
sumur bor (pokir) pemerintah Kabupaten Alor yang diperuntukan bagi masyarakat
kampung Mola Welai Timur ternyata dibangun dihalaman rumah anggota DPRD
kabupaten Alor, Marthen Luther Blegur dimana sangat memprihatinkan kondisinya
Dalam pantauan media ini, Minggu 22 November 2020
kondisi sumur bor tersebut memprihantikan karena kondisinya berbeda dengan awal dibangun.
Menurut Yusuf Atakari (53), warga setempat yang
rumahnya berhadapan langsung dengan lokasi sumur bor, menegaskan sejak sumur
bor tersebut dibangun warga setempat belum pernah menikmati air sumur bor
tersebut.
“Semenjak sumur bor dibangun tidak pernah kami warga
menikmati air tesebut. Apalagi saya sendiri yang rumahnya berhadapan langsung
dengan lokasi sumur bor tersebut namun tidak pernah menikmati.” Terang Yusuf
Hal senada juga disampaikan ketua RT 11 kampung
Mola, Imanuel Atapelang bahwa semenjak dibangun hingga kini (Minggu 22 November
2020) sumur bor tersebut tidak dinikmati oleh warga.
Sementara itu Ketua RT 10 kampung Mola, Mateus Maran
saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pembangunan sumur bor di halaman rumah Dewan Matrhen
blegur atas usulan dirinya karena warga Mola sangat kesulitan air
bersih.
Ketika ditanya apakah pembangunan sumur bor tersebut dikmimati warga sekitar? Dirinya dengan polos
mengatakan tidak.
"Sumur bor tersebut belum sempat dinakmati
warga," Tutur Mateus yang disaksikan oleh Imanuel Atapelang
Hal tersebut membuat Imanuel Atapelang geram terkait
pembangunan sumur bor tersebut tidak ada kesepakatan dengan warga bahkan
sekarang telah dipagar tembok mana bisa.
"Tidak bisa seperti ini. Mana pembangunan sumur bor diam diam saja, apalagi ini peruntukannya
untuk masyarakat Mola,"Tutur Imanuel Atapela kesal.
Terkait dengan proyek pembangunan Sumur Bor di desa
Mola Welai Timur, Kabid Bagian Penanganan Sumur Bor Dinas Pekerjaan Umum (PU), Anton
Makuni ketika dikonfimasi media ini diruang kerjannya Senin 23 November 2020,
menegaskan bahwa Dinas PU tidak pernah menangani proyek Sumur Bor di RT.10
kelurahan Welai Timur.
"Dinas PU Kabupaten Alor pada tahun 2019 tidak
pernah tangani proyek pengeboran sumur di kelurahan Welai Timur," Ungkap
Anton Makuni
Dilanjutkannya, semenjak 3 tahun terakhir semenjak
ada Pokir, penanganan proyek pengeboran dapat dilaksanakan oleh empat dinas
yang yakni Dinas PU, Dinas Perumahan, Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian.
"Sumur Bor memang kemarin penanganannya disini.
Tapi setelah ada pokir ada empat Dinas yang tangani. Dinas PU juga ada, Dinas Perumahan
juga ada, Dinas Perkebunan ju (juga) ada dan Dinas Perindustrian juga ada. Tapi
kalau Proyek Pengeboran dengan skala besar dari kementerian pusat langsung
ditangani oleh Dinas PU," Ungkap Anton.
Ketika ditanyai terkait estimasi biaya pengadaan
Sumur Bor berdasarkan gambar yang ditunjukkan langsung oleh wartawan, Anton memperkirkan
proyek dengan item yang tersedia ini
hanya menghabiskan anggaran dibawah 40 juta rupiah.
"Kalau mengacu pada gambar yang saya lihat,
biaya pengeboran ini tidak sampai 50 juta. Mungkin hanya sekitar 35an juta
Karena kalau di rumah pribadi berarti hanya biaya Bor, Dinamo dengan kran air
saja sementara meteran kan sudah ada," Tandas Anton
Sementara itu, Dinas Perumahan Rakyat Kabupaten Alor
melalui PPK, Evirosa ketika dikonfirmasi media ini di kantor Dinas Perumahan
Kabupaten Alor pada Senin 23 November 2020, menyampaikan bahwa pelaksanaan
pengeboran air di Kelurahan Welai Timur pada tahun 2019 merupakan proyek yang
ditangani oleh Dinas Perumahan Rakyat Kabupaten Alor.
"Jadi kegiatan tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2019 dengan
nomenklatur DPA jelas pembangunan sumur bor untuk warga di Kelurahan Welai
Timur. Karena saya ditunjuk sebagai PTK 2019 setelah ada penetapan DPA kita
lakukan kroscek dengan lingkungan untuk disesuaikan dengan DPA yakni Kelurahan
Welai Timur RT. 10,"Ungkap Evi.
Evirosa mengakui bahwa saat itu tim TPK telah
melakukan pengecekan bersama Konsultan dan tim pengawas Dinas Perumahan serta
koordinasi dengan RT.
"Jadi saat itu tim TPK sudah lakukan pengecekan
bersama Konsultan dan tim pengawas serta kordinasi dengan pemerintah setempat.
Kita kemudian melakukan pekerjaan fisik ditempat atas izin ketua RT 10 yang menunjukkan lokasi dan
beliau bersedia untuk dibangun disitu serta membagi ke masyarakat
disekitar," pungkas Evi.
Ketika ditanyakan terkait anggaran proyek Sumur Bor
tersebut Evi menerangkan bahwa proyek ini dikerjakan dengan estimasi biaya 59
juta Rupiah.
"Jadi untuk biaya proyek ini, awalnya 60 juta
kemudian penawarannya 59 Juta sekian. Pembangunan selain sumur bor ada juga
pengadaan mesin dinamo dan meteran pembangkit listrik dirumah. Untuk meteran
listrik diletakkan di lokasi terdekat yakni rumahnya Pak Marthen Blegur,"
kata Evirosa.
Sementara itu, Pekerja Sumur Bor Dinas Perumahan
Kabupaten Alor, Yanto Bude kaget melihat cuplikan gambar kondisi Sumur Bor
terkini yang ditunjukkan oleh wartawan kepadanya.
Menurut Yanto proyek dengan Nominal 59.900.000 ini
merupakan proyek yang ia tangani.
"Jadi proyek ini merupakan proyek Dinas
Perumahan Kabupaten Alor yang saya terima dengan biaya 59.900.000 Rupiah,"
kata Anton.
Ketika ditanyakan tekait tembok yang menutupi, Yanto
mengakui bahwa ketika dirinya melakukan pengeboran di lokasi masih belum ada
dinding tembok yang dibangun.
Yanto mengakui bahwa dalam RAB Sumur Bor ada
perubahan item yakni item Generator yang kemudian dihapus dan diganti dengan
Meteran Listrik.(*)
