Notification

×

Cangkul Sebagai Jembatan Wujudkan Mimpi Anak-Anak: Satu Jadi Dokter

Sabtu, 22 Agustus 2026 | Agustus 22, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T10:28:15Z


BT. COM | KUPANG -- Perjuangan seorang petani asal Kupang, Malton Adikson Ullu, patut diacungkan jempol. Pasalnya ia berhasil mengantarkan kelima anaknya hingga meraih pendidikan tinggi bermodalkan cangkul di pundaknya. 


Berbekal lahan seluas satu setengah hektare yang ditanami jagung dan padi, ia dan sang istri membuktikan bahwa keterbatasan biaya bukan alasan untuk berhenti bermimpi.


Malton telah menekuni dunia pertanian sejak kecil dan merupakan profesi turun-temurun. Dari hasil ladang itulah, ia membiayai pendidikan lima orang anak yang kini telah dan sedang menempuh berbagai jenjang pendidikan serta profesi: anak pertama menjadi dokter dan mengabdi di Puskesmas Baranusa, Alor; anak kedua menjadi guru honor di SD Negeri Oeboboa; anak ketiga tengah melanjutkan studi S2 di Yogyakarta; anak keempat masih berkuliah di Universitas Nusa Cendana; sementara anak kelima masih duduk di bangku SMP.


Perjalanan Malton membiayai pendidikan anak-anaknya tidak selalu mulus. Seperti Curah hujan yang tidak menentu kerap membuat tanaman padinya gagal panen. Namun, ia memiliki strategi tersendiri untuk menyiasati hal tersebut.


“Kami menyimpan jagung, sehingga pada saat anak-anak harus membayar biaya sekolah, baru jagungnya dijual,” ujar Malton. Cara ini sekaligus menjadi strategi menunggu harga jagung naik agar keuntungan yang didapat lebih besar.


Selain hasil ladang, Malton dan istrinya juga memelihara ternak sebagai usaha sampingan. Ternak-ternak ini menjadi penyelamat ketika hasil panen tidak mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.


Meski dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi, Malton mengaku tidak pernah sekalipun terpikir untuk meminta anak-anaknya berhenti sekolah demi membantu di ladang. 


“Kami memiliki pola pikir bahwa kalau orang tua tidak sekolah, maka anak-anak harus sekolah,” tegasnya. 


Prinsip itulah yang terus dipegang teguh keluarga ini dalam mencari jalan keluar setiap kali menghadapi kesulitan.


Dikatakan Malton bahwa anak pertamanya menerima beasiswa dari pemerintah sementara lainnya merupakan upaya mandiri


“Itu menjadi suatu kebanggaan bagi saya yang hanya seorang petani,” katanya.


Bagi Malton, kunci keberhasilan anak-anaknya terletak pada komunikasi dan kemauan, baik dari orang tua maupun anak. 


“Orang tua hanya sebagai pendukung dan pendorong bagi anak-anaknya, tapi yang menjalani semuanya itu adalah anak-anak. Jadi, semuanya dikembalikan kepada anak,” ujarnya. 


Penulis: Susan

Editor : Redaksi